c’est la vie

April 3, 2006

Lembang, Bandung - One Day Trip Jan07,2006

Filed under: lets talk about...

Dedicated to "orang-orang yang dekat dihati jauh dijarak"

Berawal dari ingin mengajak tamu asing kantor keluar kota pada akhir pekan, kami berempat dengan supir kantor, pak Yoto berangkat dari Jakarta jam 08.00 AM menuju Bandung tepatnya menuju kawasan Lembang yang berudara sejuk (lebih sejuk dan segar dari kawasan Puncak, Cipanas euyyy!!)
Jalan tol baru, Cipularang berhasil menghubungkan kota Jakarta dengan Bandung dalam waktu sekitar 2jam dengan kecepatan mobil rata-rata 100km/jam, sayang sungguh disayang jalan tol ini jauh dari kualitas seharusnya sebuah jalan raya, dengan tingkat gelombang pada permukaan jalan yang sungguh membuat komuter tidak nyaman dalam mobil bila ingin take a nap apalagi bila ingin membaca majalah/buku.

Sekitar jam 11.00AM baru tibalah di pusat kota Bandung setelah membeli peta kota Bandung seharga Rp 5.000,- pada penjaja di mulut pintu tol masuk kota dan setelah berurusan dengan polisi yang merazia setiap kendaraan berplat Jakarta gara-gara supir cowboy kami yang tidak memperpanjang izin mengemudinya, segera saja kami mampir di salah satu Factory Outlet (FO) Rumah Mode, FO most talk-about diJalan Setiabudi 41, berada dalam satu kompleks dengan restoran Eaton, dan foodstalls  lainnya, sebuah kawasan yang nyaman. Segera saja semua berpencar mengincar produk fashion diantara pengunjung lain yang sudah berjubel.

nasi goreng kampung daunJam 13.30PM kami berempat + pak Yoto + pak Ahmad, sang "local escort" pinjaman dari kenalan diBandung berhubung kami tidak kenal medan dan takut ketemu polisi lagi, pun segera bergegas menuju kearah Lembang dengan arah pasti menuju Kampung Daun, a so-called cultural café, sebuah tem pat makan terkenal seantero kota hingga diantara perut keroncong pun kami bertahan mengantri tempat makan/saung yang kosong hingga sekitar setenggah jam, Kampung Daun adalah sebuah restoran yang tanpa bangunan utama, setiap pengunjung bersantap disaung-saung secara private namun terbuka diantara air terjun (asli) dan sungai kecil maupun tebing dan hutan kecil walaupun ada juga disediakan tempat permanen layaknya restoran, tapi buat apa makan dibawah atap permanen bila ada saung-saung disekitarmu? sebuah tempat yang rileks walaupun tentu harga makanan yang harus dibayar sepadan dengan pengalaman makannya, menu "nasi goreng kampung daun" layak dicoba dengan penyajian yang unik diatas batok-batok kelapa.

Jam menunjukkan pukul 16.00PM ketika kami tiba di vihara Vipassana dikawasan Lembang yang berada dekat dengan Kampung Daun, niat awalnya adalah menemani salah satu teman yang ingin sembayang, berakhir dengan hunting foto-foto, vihara ini (bedakan dengan klenteng) berarsitektur mirip dengan Vihara-vihara (wat) dari Thailand/ Indocina dan juga terdapat tugu penghormatan kepada Raja Asoka, pada salah satu gedung dengan langit-langit yang tinggi terdapat patung Budha yang besar, berada didalamnya memberi nuansa tenang dan damai dihati, juga terdapat ribuan patung-patung budha kecil yang masing-masing dibawahnya terdapat nama donaturnya. Pada berbagai sudut vihara ini anda juga bisa melihat view gunung membiru dikejauhan dan kota dibawahnya dengan udara yang sangat sejuk.

Pukul 05.00PM sambil disambut hujan besar kami bergegas menuju ke café SuMur (Susu Murni) yang ditempuh dalam waktu 15menit, sebuah tempat makan yang menyenangkan dengan harga reasonable, kami memesan susu murni dingin dan yoghurt plus roti bakar, sebuah pengalaman minum susu murni ala Lembang yang segar diantara hujan deras dan udara sejuk.
Sejam kemudian kembalilah kami berangkat menuju kota Bandung, berbelanja oleh-oleh diToko Merdeka dikawasan Setiabudi yang ternyata harganya cukup mahal, setelah itu mengantar pak Ahmad kembali ketempatnya dan beli makan malam untuk dimobil, lanjut langsung menuju arah tol keJakarta yang mana sepanjang jalan ditemani hujan, ahh sebuah perjalanan kecil yang menyenangkan.

so far,
~dns~

Sang Alkemis

Filed under: lets talk about...

 

sang alkemis, the cover

Judul : Sang Alkemis

Judul asli : O Alquimista (Portugis)

Penulis : Paulo Coelho

Penerjemah : Hamid Basyaib dan Yunita

Tebal : 206 hlm 12.5x20Cm Cet. 7 - Jakarta Juni 2005

Penerbit : Pustaka Alvabet

"Bahasa simbolis bertabur diseluruh cerita ini, ditulis dengan cara yang bukan berbicara kepada otak kita tetapi kepada hati kita." - Primorske Novice (Slovenia)

"Kisah ini memuat pesona kosmis, ketegangan dramatis dan intensitas psikologi sebuah dongeng, tapi sekaligus penuh kearifan yang khas…. Sebuah dongeng manis yang eksotis bagi kaum muda dan juga orang tua." - Publisher Weekly (Amerika Serikat)

Ada begitu banyak makna yang indah dan dalam yang akan membuatmu banyak merenung, membaca lebih dari sekali adalah sangat disarankan. Walaupun baru sekali membaca, kutetap menulis apa yang kudapat berdasarkan kemampusan nalarku, mungkin suatu saat akan aku update jika tulisan mr.Paulo Coelho ini menembus tingkat batas pemahaman lainnya. Bukankah ini bagian dari "the evolution of me"?

Buku ini banyak berbicara tentang jiwa buana (Buana = (lit.) earth/universe/alam semesta) dari remaja bernama Santiago, seorang pengembala Andalusia dalam pengembaraannya menempuh suatu perjalanan untuk menemukan legenda pribadinya dan harta duniawinya dan untuk kemudian kita disadarkan bahwa proses menemukannya adalah inti dari segala-galanya.

Perjalanan yang dimana darinya banyak bertutur kepada kita tentang kehidupan dan kebijaksanaan, beberapa diantaranya coba saya kutip : hal 48 "aku memandang dunia menurut apa yang ingin kulihat terjadi, bukan apa yang sesungguhnya tejadi", dan pada hal 175 "dan apakah bumi yang kita tinggali ini akan menjadi lebih baik atau lebih buruk, tergantung pada apakah kita menjadi lebih baik atau lebih buruk". Sebuah novel yang bertaburan nuansa spritual tanpa terkontaminasi khotbah dogma-dogma agama.

~dns~

Rakkaustarina

Filed under: lets talk about...

Judul                 : Rakkaustarina

Penulis             : Jamal

Tebal                : 282 halaman

Ukuran              : 20 x 14 Cm

Penerbit/ Tahun : PT Grasindo / 2004

Percintaan hanya menjadi bingkai dari apa yang sebenarnya ingin diungkapkan oleh pengarang. Selain dibawa bertamasya pada kemegahan Eropa, kita juga bisa menengok tatar Sunda yang masih menyisakan keunikan alam, manusia dan budayanya. Lewat novelnya Jamal ingin merangsang kita untuk berapresiasi terhadap banyak hal yang ada hubungannya dengan kesenian dan kebudayaan.

-          Acep Zamzam Noor, Penyair

Kalau ada pepatah “don’t judge the books from the cover” maka untuk Rakkaustarina (Bahasa Soumi, Finlandia : Cerita Cinta), saya harus berkata “don’t judges this book from the first chapter”
Bertutur tentang Hendra, pelajar dari Indonesia di negeri Skandinavia, Finlandia. Sebuah kisah yang tidak banyak bertutur tentang jalinan cerita cinta layaknya judul novel ini tetapi lebih kepada cerita tentang pergumulan batin sang tokoh dalam interaksinya dengan masyarakat setempat baik dari sudut pandang terhadap gaya hidup, moralitas maupun hubungan antar manusia dan ketika segala sesuatu dikontraskan dengan negeri asalnya dimana sering kali muncul rasa resah terhadap masa depan negerinya yang seperti berkembang kearah kemunduran. (Hal 185 “Dinegerinya kaya-miskin hanya berjarak setebal kaca mobil, keduanya bertemu dilampu stopan!” atau pada hal 269 “Negara (Finlandia) adalah ibu bagi semua warga. Berusahalah sampai kamu sukses, bila gagal, negara akan membantumu ketika kamu tidak berdaya! Hidup dalam jaminan sosial selama mau dan tidak malu!”). 

Walaupun begitu buku ini tidak terjebak pada semangat membandingkan dengan cara berpikir yang sempit dimana sang tokoh tidak menempatkan cara pandang hidup dinegerinya sebagai tolak ukur terhadap cara bangsa lain menyikapi hidup namun sebaliknya memahaminya dengan pendekatan rasional, seperti narasi pada hal 152  “ Ketika kita tidak punya pilihan untuk lahir atau tidak, kita diberi pilihan untuk melanjutkan atau menghentikannya. Kebanyakan sih mengikuti aturan alam” ., ketika sang tokoh dihadapkan pada pergumulan batinnya dan norma religius yang dipegangnya mengenai perlu tidaknya meminum vodka.

Membaca buku ini juga bisa sebagai sarana untuk lebih mengenal sebuah negeri Skandinavia baik historis maupun kehidupan urban masyarakatnya.

~dns~

 






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Helga Cleve