Lembang, Bandung - One Day Trip Jan07,2006
Dedicated to "orang-orang yang dekat dihati jauh dijarak"
Berawal dari ingin mengajak tamu asing kantor keluar kota pada akhir pekan, kami berempat dengan supir kantor, pak Yoto berangkat dari Jakarta jam 08.00 AM menuju Bandung tepatnya menuju kawasan Lembang yang berudara sejuk (lebih sejuk dan segar dari kawasan Puncak, Cipanas euyyy!!)
Jalan tol baru, Cipularang berhasil menghubungkan kota Jakarta dengan Bandung dalam waktu sekitar 2jam dengan kecepatan mobil rata-rata 100km/jam, sayang sungguh disayang jalan tol ini jauh dari kualitas seharusnya sebuah jalan raya, dengan tingkat gelombang pada permukaan jalan yang sungguh membuat komuter tidak nyaman dalam mobil bila ingin take a nap apalagi bila ingin membaca majalah/buku.
Sekitar jam 11.00AM baru tibalah di pusat kota Bandung setelah membeli peta kota Bandung seharga Rp 5.000,- pada penjaja di mulut pintu tol masuk kota dan setelah berurusan dengan polisi yang merazia setiap kendaraan berplat Jakarta gara-gara supir cowboy kami yang tidak memperpanjang izin mengemudinya, segera saja kami mampir di salah satu Factory Outlet (FO) Rumah Mode, FO most talk-about diJalan Setiabudi 41, berada dalam satu kompleks dengan restoran Eaton, dan foodstalls lainnya, sebuah kawasan yang nyaman. Segera saja semua berpencar mengincar produk fashion diantara pengunjung lain yang sudah berjubel.
Jam 13.30PM kami berempat + pak Yoto + pak Ahmad, sang "local escort" pinjaman dari kenalan diBandung berhubung kami tidak kenal medan dan takut ketemu polisi lagi, pun segera bergegas menuju kearah Lembang dengan arah pasti menuju Kampung Daun, a so-called cultural café, sebuah tem pat makan terkenal seantero kota hingga diantara perut keroncong pun kami bertahan mengantri tempat makan/saung yang kosong hingga sekitar setenggah jam, Kampung Daun adalah sebuah restoran yang tanpa bangunan utama, setiap pengunjung bersantap disaung-saung secara private namun terbuka diantara air terjun (asli) dan sungai kecil maupun tebing dan hutan kecil walaupun ada juga disediakan tempat permanen layaknya restoran, tapi buat apa makan dibawah atap permanen bila ada saung-saung disekitarmu? sebuah tempat yang rileks walaupun tentu harga makanan yang harus dibayar sepadan dengan pengalaman makannya, menu "nasi goreng kampung daun" layak dicoba dengan penyajian yang unik diatas batok-batok kelapa.
Jam menunjukkan pukul 16.00PM ketika kami tiba di vihara Vipassana dikawasan Lembang yang berada dekat dengan Kampung Daun, niat awalnya adalah menemani salah satu teman yang ingin sembayang, berakhir dengan hunting foto-foto, vihara ini (bedakan dengan klenteng) berarsitektur mirip dengan Vihara-vihara (wat) dari Thailand/ Indocina dan juga terdapat tugu penghormatan kepada Raja Asoka, pada salah satu gedung dengan langit-langit yang tinggi terdapat patung Budha yang besar, berada didalamnya memberi nuansa tenang dan damai dihati, juga terdapat ribuan patung-patung budha kecil yang masing-masing dibawahnya terdapat nama donaturnya. Pada berbagai sudut vihara ini anda juga bisa melihat view gunung membiru dikejauhan dan kota dibawahnya dengan udara yang sangat sejuk.
Pukul 05.00PM sambil disambut hujan besar kami bergegas menuju ke café SuMur (Susu Murni) yang ditempuh dalam waktu 15menit, sebuah tempat makan yang menyenangkan dengan harga reasonable, kami memesan susu murni dingin dan yoghurt plus roti bakar, sebuah pengalaman minum susu murni ala Lembang yang segar diantara hujan deras dan udara sejuk.
Sejam kemudian kembalilah kami berangkat menuju kota Bandung, berbelanja oleh-oleh diToko Merdeka dikawasan Setiabudi yang ternyata harganya cukup mahal, setelah itu mengantar pak Ahmad kembali ketempatnya dan beli makan malam untuk dimobil, lanjut langsung menuju arah tol keJakarta yang mana sepanjang jalan ditemani hujan, ahh sebuah perjalanan kecil yang menyenangkan.
so far,
~dns~


(^_^)..... No sophisticated words here, I just pour my thoughts so some day I can back here and review what was I thinking, maybe I will feel so silly on what I wrote, heyy even now I feel some of my essays sound stupid, but hmm who care, I wrote for my own temptation, and each day might bring new one, it’s a process of life itself and I enjoy it, for good or for bad!! `~~~~~~00000~~~~~~`
